Kerajaan Malaka

1.Awal Terbentuknya Kerajaan Malaka

Kerajaaan ini memegang peranan penting dalam kehidupan politik dan kebudayaan Islam di sekitar perairan Nusantara. Kerajaan Malaka  terletak di jalur pelayaran dan perdagangan antara Asia Barat dengan Asia Timur. Sebelum menjadi kerajaan yang merdeka, Malaka termasuk wilayah Majapahit.

Pendiri Malaka adalah Pangeran Parameswara, berasal dari Majapahit. Ketika di Majapahit terjadi perang Paregreg. Parameswara melarikan diri ke Pulau Singapura. Tetapi untuk membangun sebuah kerajaan atau kota sangat tidak cocok. Dari Singapura, ia menyingkir lagi ke Semenanjung Malaya.

Lalu membangun pemukiman baru yang dibantu oleh orang-orang Palembang. Bahkan Parameswara bekerja sama dengan kaum bajak laut (perompak). Ia memaksa kapal-kapal dagang yang melewati Selat Malaka untuk singgah di pelabuhan Malaka guna mendapatkan surat jalan. Untuk melindungi kekuasaannya dari raja-raja Siam di Thailand dan Majapahit dari Jawa, ia menjalin hubungan dengan Kaisar Ming dari Cina.

Kaisar Ming inilah yang mengirimkan balatentara di bawah pimpinan Laksamana Cheng-Ho pada tahun 1409 dan 1414. Dengan demikian, Parameswara berhasil mengembangkan Malaka dengan cepat. Kemudian, Malaka pun mengambil alih peranan Sriwijaya dalam hal perdagangan di sekitar Selat Malaka. Selat Malaka pada waktu itu merupakan Jalur Sutera (Silk Road) perdagangan yang dilalui oleh para pedagang dari Arab, Persia, India, Cina, Filipina, dan Indonesia.

Menurut catatan Tome Pires, Parameswara memeluk Islam setelah menikah dengan puteri raja Samudera Pasai pada usia 72 tahun. Setelah itu, Parameswara bergelar Iskandar Syah. Namun, menurut Sejarah Melayu, pengislaman Malaka berlangsung setelah Sri Maharaja, raja pengganti Parameswara, berkenalan dengan Sayid Abdul Aziz dari Jedah, Arab.

2.Kehidupan Ekonomi Masyarakat Malaka dan Sistem Pelayaran

a. Kehidupan Ekonomi

Sejak Kerajaan Malaka berkuasa, jalur perdagangan internasional yang melalui Selat Malaka semakin ramai. Bersamaan dengan melemahnya kekuatan Majapahit dan Samudera Pasai, kerajaan Malaka tidak memiliki persaingan dalam perdagangan. Tidak adanya saingan di wilayah tersebut, mendorong Kerajaan Malaka membuat aturan-aturan bagi kapal yang sedang melintasi dan berlabuh di Semenanjung Malaka.

Aturan tersebut adalah diberlakukan pajak bea cukai untuk setiap barang yang datang dari wilayah barat (luar negeri) sebesar 6% dan upeti untuk pedagang yang berasal dari wilayah Timur (dalam negeri). Tingkat keorganisasian pelabuhan ditingkatkan dengan membuat peraturan tentang syarat-syarat kapal yang berlabuh, kewajiban melaporkan nama jabatan dan tanggungjawab bagi kapal-kapal yang sedang berlabuh, dan sebagainya.

Raja dan pejabat kerajaan turut serta dalam perdagangan dengan memiliki kapal dan awak-awaknya. Kapal tersebut disewakan kepada pedagang yang hendak menjual barangnya ke luar negeri. Selain peraturan-peraturan tentang perdagangan, kerajaan Malaka memberlakukan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi dalam perdagangan dan diplomatik.

Untuk menciptakan kondisi yang baik bagi perdagangan itu maka Malaka perlu menjamin keamanan dan kestabilan. Wajarlah apabila kemudian Malaka menjalankan ekspansi dan meluaskan pengaruhnya ke Klang, Selangor, Perak, Bernam, Mangong, Bruas, Kedah, Pulau Bintang dan Kepulauan Riau. Sebaliknya beberapa kerajaan di seberang Selat Malaka, ialah Aru, Kampar, Siak, dan Indragiri melakukan perlawanan terus. Dengan melakukan penaklukan Indragiri dan Siak, maka Malaka dapat menguasai perdagangan lada dan emas dari Minangkabau. Sementara itu, Kampar melakukan perlawanan terus, namun berhasil ditaklukkan  dan seorang warga dinasti Malaka ditahtakan disana.

Oleh karena perdagangan di Malaka sangat tergantung pada aliran rempah-rempah, maka hubungan antara malaka dan jawa sangat strategis, tidak lain karena pada masa itu perdagangan rempah-rempah dari maluku dikuasai oleh pedagang-pedagang Jawa[1]. Daerah-daerah di Sumatera dibawah pengaruh Malaka dan yang terpenting adalah daerah Kampar karena disinilah Malaka menjalankan pengawasan daerah dibawah pengaruhnya yang lain, yaitu Minangkabau. Dari daerah ini pula Malaka dapat mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan mengadakan ekspansinya ke utara dan selatan Sumatera

Dengan jatuhnya Siak, Malaka dapat mempengaruhi perdagangan emasnya. Daerah itu masih tetap membayar upeti kepada Malaka hingga kedatangan orang-orang Portugis. Upeti yang dibayarkan kepada Malaka berupa emas. Disamping perluasan hegemoni kekuasaannya di daerah Sumatera juga melakukan ekspansi ke kepulauan Riau. Malaka melakukan sikap ini untuk mencegah hegemoni Siam yang lebih berbahaya dari pada Cina.

Untuk memperkuat kedudukan Malaka, Malaka melakukan hubungan dengan Jawa dengan mengirim bahan pangan yang untuk memenuhi kebutuhan kerajaan dan bagi kapal-kapal yang singgah ke Malaka. Sehingga persediaan untuk rempah-rempah dan pangan harus selalu tersedia supaya dapat melayani semua pedagang. Pada abad ke-15, Malaka mengirim upeti kepada raja-raja yang beragama Hindu di Jawa untuk mendapatkan bantuan dan hasil-hasil pangan dari Jawa. Hubungan ini mengendur di abad ke-16 karena kekuasaan kerajaan-kerajaan yang dikuasai raja yang beragama Hindu mulai mundur.

Majapahit mulai terdesak dengan munculnya kota-kota dan kerajaan Islam di pantai utara dan mulai Malaka menjalin hubungan dengan kerajaan di pantai utara tersebut sehingga membawa kemunduran Majapahit. Malaka juga melakukan hubungan dengan Pasai sangat hati-hati karena Pasai juga mempunyai hubungan baik dengan Jawa. Hubungan Jawa dengan Pasai tidak diganggu oleh Malaka. Namun, dengan cara-cara halus berhasil menarik orang-orang Jawa datang ke Malaka tanpa merusak hubungan dengan pedagang Pasai yang datang ke Malaka. Dengan demikian, pelabuhan Malaka menjadi sangat ramai, banyak pedagang Islam yang sebelumnya di Pasai pindah ke Malaka, meskipun begitu hubungan Pasai dan Malaka tetap berjalan baik[2].

Pedagang-pedagang dari berbagai macam bangsa yang singgah di Kerajaan Malaka, mendirikan tempat-tempat peristirahatan seperti Golongan Pedagang dari berbagai penjuru Nusantara dan Cina tinggal di hilir selatan sungai Malaka. Sedangkan dari Abesinia, Gujarat, Pegu, Goa, Patani dan sebagainya tinggal di Upih sebelah utara sungai. Pemukiman nelayan tetap terletak di sepanjang pantai.

Di Kerajaan Malaka terdapat pedagang yang cukup kaya yang mampu melengkapi 3/4 kapal. Kemungkinan pedagang-pedagang bermodal kecil berkongsi melengkapi kapal atas tanggungan dan resiko bersama. Barang-barang diserahkan kepada nahkoda dalam commenda. Rupanya tidak mencakup kontrak atau memegang saham berdasarkan resiko bersama dan barang-barang yang dititipkan untuk diperdagangkan merupakan milik pribadi sehingga bila mendapat keuntungan akan memperoleh untung masing-masing.

Terdapat pula golongan pemilik modal. Aristokrat yang memegang kekuasaan politik dan mendominasi perdagangan cenderung melakukan ekspansi politik kapitalis. Dengan demikian, tidak tercipta kewiraswastaan yang bebas dengan kerajinan yang tidak mengalami proses industrilisasi yang semuanya masih bersifat tardisional dan belum diproduksi secara massal. Dengan pengawasan politik oleh Aristrokratis ekonomi negara tetap secara feodalisme[3].

Ekonomi Malaka yang tidak mengenal perdagangan bebas dan sistem monopoli lebih condong ke feodalis maka ekonomi yang dilakukan oleh Kerajaan Malaka dengan hegemoni untuk menambah upeti dari kerajaan yang tunduk kepadanya. Tidak terkecuali upeti yang dipungutnya berupa pajak atau bea cukai dari kapal-kapal yang berlabuh.

Sehingga kehidupan di Malaka tidak terlepas dari feodalisme menyebabkan kebudayaan Malaka mendorong kuat untuk gaya hidup yang serba konsumtif, keserbamewahan, memakai kekayaan sebagai lambang status. Mereka membatasi hak-hak para pedagang, hak milik mereka dapat disita penguasa, anak perempuan mereka dijadikan gundik. Hubungan antara elit Melayu di Malaka dengan pedagang asing kurang erat, meskipun terjadi perkawinan diantara keduanya. Kadang-kadang pedagang asing tersebut diangkat sebagai pegawai kerajaan[4].

Mereka-mereka yang telah menetap di Malaka untuk beristirahat menunggu bergantinya angin atau sekadar menyebarkan Islam kepada penduduk pribumi serta melakukan perkawinan. Kelompok-kelompok tersebut dibawah kekuasaan seorang syahbandar, seorang pemuka yang ditunjuk dari kelompoknya. Setiap Fondachi ada diluar yuridiksi Kerajaan Malaka, Syahbandarlah yang  mempunyai kekuasaan dan mewakili kelompok dalam hubungannya ke luar[5].

b. Sistem Pelayaran

perdagangan ke dan dari Malaka sebagai emporium besar di Indonesia sejak awal abad ke XII sangat tergantung kepada sistem angin yang berlaku di Asia Selatan, Tenggara dan Timur. Arah angin sangat menentukan jalur navigasi yang ditempuh tergantung pada siklus musim panas dan dingin di daratan Asia, khususnya bagi Indonesia pada siklus di Australia.

Siklus pertama menimbulkan musim barat daya yang menjadi musim pelayaran baik di Asia Selatan ke Malaka, yaitu dari Januari sampai dengan Maret. Dalam musim panas di daratan Asia angin membalik kearah menjadi angin barat daya sehingga sulit berlayar dari Malaka ke pantai Malabar dan Gujarat. Menjelang musim panas kapal-kapal sudah kembali ke Malaka, maka perdagangan dilakukan dalam waktu yang agak pendek, ialah Maret sampai akhir Mei. Pelayaran yang menggunakan angin timur laut pada musim dingin di daratan Asia, yaitu bulan-bulan terakhir tahun lama dan bulan-bulan pertama tahun baru berikutnya dilakukan oleh bangsa Cina untuk mengunjungi Malaka. Waktu cukup leluasa, yang kurang lebih setengah tahun.

Dalam periode yang sama, di lingkungan kepulauan Nusantara berlaku musim hujan atau musim barat sehingga tidak banyak pedagang dari Indonesia datang. Pelayaran dari Maluku dan Jawa ke Malaka memakai musim timur atau musim kemarau, yaitu Mei-September; pedagang itu terpaksa menunggu musim barat, ini berarti baru dalam bulan Januari dapat kembali.

Ketergantungan pada sistem angin itu membuat waktu berlayar dan berlabuh di Malaka berbeda-beda. Oleh karena itu, timbul kebutuhan untuk menyimpan barang-barang dagang selama periode antara kedatangan penjual dan pembeli. Dalam hal ini Malaka dapat menjalankan fungsinya sebagai emporium, maka disitu bertemu jalur perdagangan dari Barat, Utara dan Timur.

Sebagai tempat rendez-vous pedagang dari pelbagai penjuru, Malaka berkembang sebagai pasar tidak hanya untuk rempah-rempah tetapi hasil kerajinan. Berkembangnya jenis perdagangan yang kedua “haalhandel” sangat mempengaruhi kemajuan Malaka. Dalam sistem pelayaran dan perdagangan abad ke XV lokasi Malaka sangat menguntungkan karena merupakan titik pertemuan antara sistem pelayaran dan perdagangan di Samudera Hindia dengan sistem di Nusantara. Lagi pula sistem di Lautan Cina dapat menyambung. Sebagai pusat dalam sistem yang pertama, Gujarat dan Bengala mempunyai hubungan langsung dengan Malaka, dimana pedagang-pedagang baik dari Cina, Asia Tenggara maupun seluruh Nusantara juga berkumpul.

Jaringan ini sangat penting bagi perkembangan sejarah Indonesia karena jalur-jalurnya membuka jalan masuknya perdaban dan agama ke Indonesia. Hubungan ekonomi itulah yang menciptakan kecenderungan structural kearah proses Islamisasi. Aliran perdagangan ke Barat membawa rempah-rempah, kayu, kapur barus dan aliran dari Barat membawa sutera, porselin. Beberapa singgah di tempat penting dalam jalur ke Barat seperti Pegu, Kalikut, Pantai Koromandel, dan Bengala.

Hubungan Perdagangan terciptalah hubungan politik dengan kerajaan di Sumatera. Dari Minangkabau, Indragiri datanglah emas dan sebaliknya diperdagangkan tenun. Kampar menghasilkan emas, lada, dan madu. Siak mengekspor barang makanan sedang Minangkabau emas. Dari Palembang, Malaka mengimpor beras, bawang, daging, dan jahe. Selain itu juga terjadi perdagangan budak, dimana daerah selatan Palembang mengarahkan perdagangannya ke Jawa.

Hubungan antara Malaka dan Jawa yang mencakup rempah-rempah dan beras menimbulkan lokasi-lokasi pelabuhan di Jawa menjadi fungsi sebagai stasiun perantara. Kecuali itu pedalaman dari kota-kota tersebut sebagai daerah agraris yang cukup maju menjadi penghasil beras dan bahan makanan yang sangat dibutuhkan di Malaka maupun di Maluku.

Malaka juga berhubungan dengan Brunei. Lawe, dan Tanjungpura untuk memperoleh hasil hutan. Pada periode itu, bangsa Bugis juga melakukan perdagangan. Kepulauan Nusa Tenggara mempunyai tempat singgah kapal-kapal dalam pelayarannya ke Maluku, terutama hasil-hasil yang sangat dibutuhkan seperti kayu cendana, belerang, soga yang kesemuanya ditukar dengan bahan tekstil dari Gujarat.

Penduduk asli Malaka adalah bangsa Melayu dan hidup sebagai Nelayan. Seperti yang dituliskan oleh Tome Pires dalam Suma Oriental pedagang-pedagang di Malaka berasal dari Kairo, Mekkah, Aden, Abesinia, Armenia, Keling, Orisa kesemuanya dari jurusan Barat. Dari jurusan Timur datanglah pedagang dari Siam, Pahang, Patani, Kamboja, Campa, dan Cina serta dari pedagang Nusantara[6].

    3.Kehidupan Politik Kerajaan Malaka

Berawal dari Paramisora (dari Majapahit) melarikan diri ke Tumasik dan mendirikan Kesultanan Malaka dengan gelar Sultan Iskandar Syah pada abad ke-15. Raja – raja yang pernah memerintah kerajaan ini adalah Sri Maharaja, Sri Parameswara Dewa Syah, Sultan Muzzafar Syah, Sultan Mansyur Syah, Sultan Alauddin Riayat Syah, dan Sultan Mahmud Syah. Kerajaan ini sempat mengalami masa keemasan, yaitu pada zaman pemerintahan Sultan Mansyur Syah.

Iskandar Syah merupakan raja pertama Kerajaan Malaka. Iskandar Syah awalnya adalah seorang pangeran dari kerajaan Majapahit yang melarikan diri setelah Majapahit kalah dalam perang Paregreg. Nama asli Iskandar Syah adalah Parameswara. Ia melarikan diri bersama pengikutnya ke Semenanjung Malaya dan membangun kerajaan baru yang kemudian diberi nama Malaka.

Pada masa pemerintahannya Parameswara menjalin hubungan dengan Cina, tatkala Laksamana Yin Ching dari Cina mengunjungi Malaka tahun 1402. Salah seorang sultan di Malaka telah menikahi putri dari Cina, Hang Li Po. Hubungan antara Cina dan Malaka semakin erat dengan mendapat perlindungan dari Cina untuk menangkal serangan Siam.

Kerajaan Malaka merupakan kerajaan Islam kedua setelah Kerajaan Samudra Pasai. Berkembangnya kegiatan perdagangan dan pelayaran di Kerajaan Malaka banyak didukung para pedagang Islam dari Arab dan India. Kerajaan Malaka pun banyak mendapatkan pengaruh budaya Islam dari kedua daerah ini. Nama Iskandar Syah sendiri merupakan nama Islam, yang diperoleh setelah ia menjadi pemeluk agama Islam. Pada periode kekuasaan Raja Iskandar Syah (1396-1414), Kerajaan Malaka berkembang sebagai salah satu kerajaan Islam terbesar yang disegani kerajaan lain di sekitarnya.

Muhammad Iskandar Syah merupakan putra mahkota, Kerajaan Malaka yang naik tahta menggantikan ayahnya, Selama memerintah Malaka, Muhammad Iskandar Syah berhasil memajukan bidang perdagangan dan pelayaran. Ia juga berhasil menguasai jalur perdagangan di kawasan Selat Malaka dengan taktik perkawinan politik. Muhammad Iskandar Syah menikahi putri raja Kerajaan Samudra Pasai dengan tujuan menundukkan Kerajaan Samudra Pasai secara politis. Setelah mendapatkan kekuasaan politik Kerajaan Samudra Pasai, ia baru menguasai wilayah perdagangan disekitarnya. Muhammad Iskandar Syah berkuasa dari tahun 1414-1424.

Sultan Mudzafat Syah memerintah Kerajaan Malaka dari tahun 1424-1458. Ia menggantikan Muhammad Iskandar Syah setelah menyingkirkannya dari tahta Kerajaan Malaka melalui sebuah kemelut politik. Pada masa pemerintahannya Sultan Mudzafat Syah juga berhasil memperluas kekuasaannya hingga ke Pahang, Indragiri, dan Kampar.

Setelah Sultan Mudzafat Syah wafat, ia digantikan oleh putranya Sultan Mansyur Syah. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Malaka berhasil menguasai kerajaan Siam sebagai bagian taktik memperluas wilayah kekuasaan dan mengokohkan kebesarannya di antara kerajaan-kerajaan lain disekitarnya.

Sultan Mansyur Syah tidak menyerang Kerajaan Samudra Pasai yang merupakan kerajaan Islam. Hal ini merupakan salah satu kebijakan politik Sultan Mansyur Syah untuk menjalin hubungan baik dengan sesama kerajaan-kerajaan Islam yang ada disekitarnya. Sultan Mansyur Syah berkuasa dari tahun 1458-1477.

Setelah Sultan Mansyur Syah meninggal dunia, ia digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Alauddin Syah. Pada masa pemerintahannya, perekonomian Kerajaan Malaka dalam kondisi cukup stabil. Arus perdagangan dan pelayaran di sekitar Pelabuhan Malaka masih cukup ramai, namun selama pemerintahannya Kerajaan Malaka mengalami kemunduran. Banyak daerah taklukan Kerajaan Malaka yang melepaskan diri. Perang dan pemberontakan terjadi di banyak kerajaan di bawah kekuasaan Kerajaan Malaka. Sultan Alauddin Syah berkuasa dari tahun 1477-1488 M.

Sultan Mahmud Syah menggantikan ayahnya, Sultan Alauddin Syah yang wafat pada tahun 1488 M. Secara politik, kekuasaan Kerajaan Malaka hanya tinggal mencakup wilayah utama Semenanjung Malaka. Daerah-daerah lain telah memisahkan diri dan menjadi kerajaan-kerajaan yang berdiri sendiri. Dalam kondisi yang semakin lemah, pada tahun 1511 M, armada perang bangsa Portugis yang dipimpin oleh Alfonso d’Albuquerque akhirnya berhasil menguasai dan menaklukan Kerajaan Malaka.

4.Struktur Kekuasaan di Kerajaan Malaka

Dalam hierarki di Kerajaan Malaka, dibawah raja adalah Paduka Raja yang membawahi semua pejabat tinggi kerajaan, dari bendahara, bupati dan seterusnya. Kemudian menyusullah bendahara yang memegang jabatan sebagai pemimpin tertinggi pengadilan. Disamping pula ia berkuasa atas urusan pajak kerajaan serta berwenang menjatuhi hukuman mati setelah mendapat persetujuan laksamana dan tumenggung dan dengan sepengetahuan raja.

Laksamana memimpin AL dan semua kapal, jung, serta semua yang ada di lautan adalah dibawah yuridiksinya. Ia juga merupakan pengawal raja dan semua pejabat tinggi yang ada dibawah perintahnya. Kedudukannya sejajar dengan bendahara. Sedangkan Tumenggung merupakan kepala pemerintahan kota dan diserahi urusan penjagaan.

Sebelum diserahkan kepada Bendahara, semua tawanan diurus olehnya. Disamping tugas-tugas itu dia juga mengurus pajak dan barang dagangan. Untuk menduduki jabatan tumenggung hanya orang terpandang atau yang memiliki prestise tinggi.

Para Syahbandar bertugas sebagai menerima kapten jung sesuai dengan yuridiksinya masing-masing. Syahbandar mengantar kapten ke hadapan bendahara, mengalokasikan gudang-gudangnya, mengurus barang-barangnya, menyediakan kapal dan tempat tinggalnya, dan sebagainya. Di Malaka ada syahbandar bagi bangsa Gujarat, Bengala, Pegu, Pedagang dari Jawa, Maluku, Banda, Palembang, Tanjungpura, Lawe, Cina dan Campa. Setiap pendatang berurusan dengan syahbandar dari bangsanya masing-masing.

Diantara penduduk Malaka ada sekelompok kecil golongan bangsawan yang berasal dari Lingga, Brunei, Pahang, dan Malaka sendiri. Mereka sangat dihormati dan ditakuti. Bila mereka dilantik sebagai kstaria maka harus bersumpah setia serta menerima suatu lambang berupa kepingan logam yang dipakainya pada tangan kanannya[7].

Para bangsawan dari bangsa Melayu mereka mempunyai daerah yang menjadi sasaran eksploitasinya. Penduduknya terdiri atas petani tunduk sepenuhnya serta berkewajiban mengerjakan tanah bagi kepentingan bangsawan. Sebagai ksatria para bangsawan terutama harus memiliki keterampilan berperang. Gaya hidup feodal lebih mementingkan hidup yang serba glamour dan sekuler, kesemuanya untuk membenarkan dan memperkuat kedudukannya.

Golongan bangsawan mempunyai rasa enggan terhadap kegiatan berdagang, meskipun mereka sebenarnya sangat menginginkan kekayaan yang dihasilkan oleh kegiatan perdagangan. Pada nahkoda memperdagangkan barangnya sendiri atau barang yang dititipkan barang pedagang kepadanya. Dia ada hak menjual barang selama 4 hari pertama setelah berlabuh, kemudian para kiwi (pedagang) selama 2 hari dan akhirnya anak buah kapal.

 

5.Strukut Perdagangan di Kerajaan Malaka

Dalam perdangangan di Malaka terdapat dua macam perdagangan yang dijalankan yakni: 1. Pedagang yang memasukkan modal dalam barang dagangan yang diangkut dengan kapal untuk dijual di negeri lain; 2. Pedagang menitipkan barang kepada nahkoda atau meminjamkan uang kepada nahkoda yang akan membagi keuntungannya dengan pedagang yang memberi modal.

Raja dan pejabat tinggi juga menanamkan modal dengan melengkapi kapal dengan bermacam-macam barang dagang. Perdagangan hal semacam ini dilakukan oleh pedagang yang bertindak sebagai wakilnya atau oleh seorang nahkoda. Sudah tentu mereka mendapat bagian dari keuntungan yang diperolehnya kemudian.

Raja juga memiliki jung yang berlayar dengan membawa barang milik raja sendiri dan dari pedagang-pedagang yang menitipkannya. Kekayaan yang diperoleh dari pemilikan kapal dan perdagangan dipergunakan untuk membangun istana dan masjid yang indah, memelihara gundik yang banyak, hidup serba mewah. Sebagian dari harta/kekayaan digunakan untuk memelihara pelabuhan.

Setiap kapal yang berlayar mempunyai bagian-bagian yang diisi dengan muatan pedagang. Mereka masing-masing memperoleh tujuh atau delapan petak dan pedagang dapat menambah modal nahkoda. Para pedagang berkewajiban memberi sumbangannya untuk melengkapi kapal sebelum berlayar. Anak buah kapal juga mendapat bagian, 2 koyan bagi yang bebas dan 1 koyan bagi budak.

Diantara pedagang yang berlayar ada pula pedagang penjaja yang hanya membawa barang-barang ringan tetapi berharga. Barang dari Malaka yang diangkut ke Bengala atau Koromandel dalam bentuk commenda memberi keuntungan 80%-100%. Apabila dibawa oleh pedagang milik sendiri keuntungan dapat berjumlah 300%. Perdagangan ke Cina dapat menghasilkan 300% keuntungan[8].

Untuk barang dagangan yang didatangkan dari Aden sampai Pegu dipungut Bea Cukai, sedang yang berasal dari Timur (Cina, Campa, dan Nusantara) tidak dikenakan. Pedagang hanya wajib membayar upeti kepada raja dan pembesar. Golongan yang pertama membayar bea cukai sebesar 6%.

Bagi pedagang yang mempunyai keluarga bertempat tinggal di Malaka, bila seorang asing membayar 3% ditambah 6% sebagai upeti kepada raja, sedang seorang asli Malaka dikenakan 3% ditambah 3%. Selanjutnya upeti atau persembahan perlu diberikan kepada raja, bendahara, tumenggung serta syahbandar, semuanya berjumlah 1-2%. Kadang-kadang syahbandar memungut lebih dengan maksud agar dapat menyampaikan lebih banyak kepada raja dan para pembesar kerajaan sehingga terpelihara hubungan yang baik dengan mereka.

Untuk memudahkan penetapan dan pembayaran bea cukai, dibentuk panitia penilai yang terdiri dari 10 pedagang, 5 orang Keling, 1 orang Tumenggung. Mereka menafsir nilai muatan kapal[9]. Menurut kebiasaan di Malaka, setelah muatan kapal dibongkar, bea cukai dibayar, maka sepuluh atau dua puluh pedagang berkumpul untuk menawar barang dagang dan setelah ditetapkan harganya barang dibagi kepada para pedagang sebagai pembeli.

Pedagang Malaka sebagai pembeli kemudian menyimpannya dan menjualnya pada waktunya dengan keuntungan besar. Karena harga-harga di Malaka sudah sangat terkenal, perdagangan sangat tertib. Timbangan yang dipergunakan di Malaka adalah Kati berupa keping dari timah. Dalam perhitungannya 100 Kati mempunyai harga 11 reis dan 4 ceti atau cruzados.  Ada mata uang asing yang beredar di Malaka seperti serafin dari Cambay yang mempunyai nilai sama dengan 32 reis. Nilai emas tergantung kepada tempat asalnya, urutannya seperti yang ditetapkan di Malaka adalah: emas dari Brunei, Lawe, Jawa, Pahang, Minangkabau, Keling. Raja akan menunjuk seorang untuk mentafsirkan nilai emas tersebut.

Di Malaka sendiri terdapat kesatuan timbangan yang berlaku disebut tail, sama dengan 16 emas. Setiap emas ada 4 kupao dan setiap kupao ada 20 kumderi [10]. Satu kati ada 23 tail atau 32 ¾ ons. Seperti yang telah ditetapkan oleh hukum di Malaka 1 bahar ada 200 kati dan 1 dacin ada 3 kw lebih.

 

6.Kemunduran, Runtuhnya Malaka dan Penguasaan oleh Bangsa Barat serta Dampak dikuasainya Malaka oleh Barat

Diketahui adanya hubungan antara Turki dan beberapa kerajaan Islam di Asia Tenggara khususnya Indonesia bagian barat berupa hubungan militer maupun hubungan diplomasi. Di kepulauan Indonesia raja Turki telah lama dikenal dengan julukan raja Rum dan merupakan raja Islam terkuat pada abad ke-16. Seperti cerita tentang Iskandar Zulkarnaen yang dikatakan mempunyai putra yang dilahirkan oleh seorang putri dari samudra. Ketiga putra itu masing-masing menjadi raja Rum, raja Cina, dan raja Johor dan mereka berasal dari keluarga Minangkabau[11].

Orang-orang Portugis dengan mencari rempah-rempah dan membalas atas ditutupnya Kota Konstantinopel oleh Turki Ottoman, mereka mencari jalan sendiri menuju tempat sumber “emas putih” dengan semangat renconquesta. Setelah orang-orang Portugis menelusuri pantai Barat Afrika hingga melewati Selat Mozambik. Mereka tiba di Goa, India mendirikan kantor dagang. Portugis mendengar kabar tentang Malaka sudah bercorak Islam dan menjadi pelabuhan transito yang ramai dan terjadi perbarteran disana.

Setelah mendapat Informasi tentang pelabuhan Malaka, Albuquerque bermaksud untuk mengadakan hubungan dengan Malaka. Suatu utusan dikirim tahun 1509 yang bernama Diego Lopez de Squeira. Ternyata ia tiba di Malaka untuk memberi surat kepercayaan kepada Sultan Mahmud Syah untuk memperoleh izin dagang. Akan tetapi sultan tidak berhasrat untuk menerima Lopez Squeira karena raja telah mendengar hal-hal yang tidak menguntungkan bagi orang-orang Portugis[12].

Raja Malaka saat itu tidak menginginkan berhubungan dengan orang Portugis, bahkan orang-orang Malaka menyerang Portugis dan menawan mereka. Serangan itu mengakibatkan orang-orang Portugis mengancam keselamatan Mahmud Syah. Akibat perbuatannya, Alfonso d’Albuquerque untuk membalas serangan Mahmud Syah.

Alfonso menuntut pembebasan orang-orang Portugis yang ditawan sejak 1509 tetapi dianggap sepi oleh Mahmud Syah, meskipun sudah melancarkan ancaman untuk berperang, pihak Malaka tetap menolak keras. D’Albuquerque melalui kurir rahasia telah menerima anjuran dari tawanan d’Araujo untuk menyerang kota pelabuhan Malaka secara mendadak, tidak perlu berpikir panjang lagi. Kapal-kapal dagang orang Gujarat yang sedang berlabuh dibakar.

Ia menuduh bahwa Pedagang Gujarat telah bersekongkol dengan Sultan Malaka. Mereka adalah orang-orang Muslim yang harus dibantai. Dan telah mendengar juga dari para pedagang Gujarat yang segala perbuatan biadab yang dilakukan oleh orang-rang Portugis di India terhadap golongan Islam, mempengaruhi keputusan sultan tentang tuntutan Alfonso[13].

Ketika Alfonso berlabuh di Malaka, maka kegemilangan Malaka sudah mulai meredup. Pada waktu itu Malaka yang diperintah Mahmud Syah, diembani oleh Tun Mutahir, anak Tun Ali, berasal dari golongan Tamil. Dalam jabatannya sebagai bendahara, Tun Mutahir tidak disukai oleh orang Melayu. Pokoknya golongan lain menghendaki agar keturunan Tun Perak dijadikan bendahara. Tun Perak adalah orang kuat di Malaka, ia pernah membuat Malaka gemilang. Fitnah terjadi dan dilancarkan kepada Tun Mutahir, sehingga Mahmud membenci kepada bendaharanya.

Sikap Mahmud dapat dipahami, karena selama Tun Mutahir berkuasai sebagai bendahara, Mahmud tidak dapat bergerak leluasa lagi. Bagi Tun Mutahir, sultan Mahmud hanyalah sebuah boneka yang bergerak menurut kehendaknya. Ketika tahun 1509, kapal Portugis tiba dan mendapatkan kesempatan baik untuk menyingkirkan Tun Mutahir. Atas dasar tuduhan bahwa bendahara berkhianat dengan melakukan hubungan dengan Portugis, Tun Mutahir tanpa proses dijatuhi hukuman mati. Diangkatlah Paduka Raja putra Tun Perak. Demikianlah ketika Alfonso tiba. Tetapi tidak memiliki kekekuatan dalam melawan bahaya seperti Tun Perak.

Malaka menjadi sarang perebutan kekuasaan dan permusuhan antar golongan setiap kali ada pergantian bendahara atau sultan dalam mengajukan calonnya dan mendesak supaya calonnya dapat diterima. Penyokongnya saling bertengkar, bentrok fisik pun tidak dapat dihindari. Sikap benci mengeram di dalam dada, menetas permusuhan. Permusuhan antargolongan melemahkan pemerintahan, golongan bangsawan terpecah dan saling membentuk kelompok untuk menyokong gerakannya untuk meruntuhkan lawannya[14].

Jadi jika pemerintahan yang dipegang sultan dan bendahara memiliki peranan yang sangat kuat dalam merangkul semua golongan maka golongan penentang segan melancarkan serangan gerakannya, bahkan ada kalanya berbalik menunjukkan kesetiaannya demi keselamatan dirinya dan demi kebaikan pemerintahan sebaliknya, jika dipegang orang yang salah maka pemerintahan menjadi kacau balau. Keseganan terhadap pemerintah pusat lenyap, negara-negara jajahan mendapat kesempatan untuk melepaskan diri dan membentuk pemerintahan yang merdeka.

Semangat perjuangan yang dipupuk oleh Sultan Parameswara pada awal kerajaan Malaka dan Tun Perak yang membangun Malaka menjadi menempati kedudukan penting dunia lambat laun terdesak oleh semangat dagang. Kemakmuran Malaka sedikit-sedikit melemahkan semangat perjuangan. Karena kehilangan kekuatan-kekuatan yang terpecah belah, menghancurkan kekuatannya sendiri dan meremuk kekompakkan yang sangat diperlukan dalam menghadapi bahaya dari luar. Semangat perang telah melempem[15].

Mahmud Syah salah memahami sikap Alfonso yang mengira bahwa Portugis akan kembali ke Goa, hanya menunggu angin timur laut dan sebentar singgah di Malaka. Pembakaran beberapa kapal dagang dikira hanya sebagai penyalur rasa jengkel yang segera mereda. Sebagai siasat, Alfonso mengadakan persiapan serangan mendadak dan matang sebelum melancarkan serangan gemilang.

Pada tanggal 25 Juli 1511, serangan pertama dilancarkan secara mendadak. Jembatan sungai Malaka berhasil direbut dan waktu malam mereka kembali ke kapal untuk mundur. Stelah mematangkan siasat ke dua sambil beristirahat selama 2 minggu. Serangan ke dua dilancarkan, pertahanan musuh di Bandar sebagai pusat pertahanan akhirnya tumbang, Bandar Malaka berhasil direbut dan Mahmud serta prajuritnya pontang-panting meninggalkan ibukota[16].

Ia bermaksud mengadakan serangan balasan dari arah Muar, Banyak senjata seperti pedang, tombak, perisai, panah beracun dapat dirampas oleh orang-orang Portugis dari pihak Malaka. Disamping senjata-senjata juga menggunakan bola-bola besi yang diimpor dari Cina untuk melawan Portugis. Ternyata mereka juga memakai meriam-meriam yang dibeli dari Kalikut yang dibuat oleh 2 orang pelarian Portugis yang bekerja dibengkel untuk membuat senjata ini.

Tetapi gagal mengalahkan Portugis. Orang-orang Portugis yang mempunyai semangat perjuangan tinggi, memiliki perlengkapan senjata yang lebih sempurna dan terlatih dalam peperangan. Kemenangan-kemenangan sebelumnya yang mereka peroleh di pantai India melawan orang-orang Gujarat, Kalikut, Persia, dan Mesir mempunyai modal untuk mempertebal semangat membela tanah airnya yang dalam pengembaraan jauh harus terus menerus mati-matian bertempur.

Semangat sedemikian tersebut tidak dimiliki oleh pasukan Malaka dalam mempertahankan negaranya. Sikap mundur sambil menunggu saat yang tepat untuk mengadakan serangan balasan sangat tidak tepat karena membiarkan musuh bergerak maju dan untuk merebutnya kembali tidaklah mudah. Pasukan Portugis menyerang Malaka pada 10 Agustus 1511 dan direbut tanggal 24 Agustus 1511[17]. Portugis yang dipimpin langsung oleh Alfonso d’Albuquerque, dengan mudah mengalahkan pertahanan Malaka. Mereka menjalin kerja sama dengan Pidie untuk membangun benteng disana dan banyak daerah-daerah melepaskan dari pengaruh Malaka.

Maksud utama dari menguasai Malaka sudah terwujud yakni menguasai  perdagangan yang melalui Selat Malaka atau melakukan perdagangan dengan Malaka semata-mata. Sementara orang Portugis hendak menguasai perdagangan antara pelabuhan-pelabuhan di India yaitu Gujarat, Benggala, dan Golkonda dengan Malaka.

Keadaan ini sangat menguntungkan Kerajaan Aceh yang mulai berkembang. Aceh melakukan perlebaran sayap ke daerah-daerah sekitar melalui operasi militer demi tujuan politik dan ekonomi tercapai. Termasuk saat Ali Muqhayat Syah menyerang ke utara terhadap Pidie, Pasai, dan Daya berhasil merebut senjata-senjata Portugis yang terdapat di benteng mereka di Pidie yang bersahabat dengan Portugis.

Untuk mengadakan ekspansi ke daerah-daerah, Aceh menggunakan pasukan asing yang terdiri dari Turki, Arab dan Abesinia sangat membantu Aceh untuk memperkuat kedudukannya. Hubungan politik juga dijalin dengan Minangkabau yang hanya mengambil penghasilan Minangkabau yang menuju pantai barat. Sejak tahun 1511 banyak hasil perdagangan yang sedianya menuju Malaka pada waktu itu diangkut ke pantai barat. Di situlah pedagang-pedagang Gujarat datang dengan perahu dagangnya.

Meskipun segi agama tidak lagi memainkan peran yang begitu penting dalam ekspansi komersial, sebagai akibat permusuhan yang dialamu pedagang-pedagang Islam yang berlangsung antara Malaka dan Persia serta Laut Merah dan India, kehadiran orang-orang Portugis di Malaka sangat bahaya bagi perdagangan mereka.

Mereka tidak ikut campur dalam urusan kenegaraan Malaka dan menjadi warga negara, tetapi tetap warga asing. Dalam persengketaan anatar orang Malaka dan Portugis, mereka lebih memilih bersikap netral demi keselamatan diri dan harta miliknya. Sikap acuh tak acuh yang demikian bagi orang asing tidak dapat diganggu gugat.

Pada waktu itu, pajak yang harus di setorkan pedagang asing yang memasukkan barang dagangnya ke pelabuhan Malaka sudah sangat tinggi. Banyak pedagang asing yang berpikir-pikir mencari tempat lain. Orang Malaka menjalankan “dagang timpuh” mendapat keuntungan besar, lebih besar dari pedagang asing yang datang jauh, bersusah payah memuat dan membongkar muatan kapal, mengarungi lautan yang penuh bahaya. Di Malaka, mereka dipukul pajak yang sangat tinggi, tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh. Politik pajak yang demikian menumbuhkan rasa acuh tak acuh pada para pedagang[18] .

Akhirnya Mereka para pedagang Islam semenjak dikuasainya Malaka dan mengetahui tingkah laku Portugis dalam perdagangan yang suka memonopoli secara mutlak serta pajak/bea cukai yang tinggi, mulai mencari pelabuhan-pelabuhan dan jalan lain untuk mendapatkan lada dan rempah-rempah untuk melanjutkan perdagangan merka secara aman antara kepulauan Nusantara dengan Laut Merah di Afrika. Sehingga membuat Malaka semakin berkurang intensif perdagangannya. Mereka ada yang ke Banten. Maluku, Demak, Sunda Kalapa, dan lain-lain sehingga pelabuhan-pelabuhan baru yang di singgahi akan menjadi sebuah kerajaan yang kuat dan menjadi sebuah kota pelabuhan teramai seperti Sunda Kalapa.

Karena serangan itu, Sultan Mahmud Syah melarikan diri ke Pahang lalu ke Bintan dan mendirikan ibukota baru di sana. Pada tahun 1526, Portugis membumihanguskan Bintan dan ia melarikan diri ke Kampar. Setelah yakin tidak mampu membebaskan Malaka dari kekuasaan Portugis[19] Putranya Muzaffar Syah menjadi Sultan Perak dan Alauddin Riayat Syah mendirikan Kerajaan Johor[20].

Berubahlah pemerintahan nasional bertukar menjadi pemerintahan kolonial dan melalui Malaka kekuasaan kolonial Portugis melebarkan sayapnya ke timur Nusantara dan utara menuju negara-negara di Laut Cina Selatan sehingga menjadikannya sebagai Pintu gerbang kekuasaan Kolonialisme dan Imperialisme. Daerah yang dikuasainya sepenuhnya oleh Portugis membentang dari sungai Muar di selatan sampai sungai Linggi di sebelah utara dengan panjang >50 km.

Untuk mempertahankan daerah yang dikuasai, Portugis mendirikan benteng A-Famosa di atas bukit di sebelah sungai Malaka. Agar Portugis dapat mengamati apa yang terjadi disekitarnya di tanah datar dan letaknya tidak gampang direbut musuh karena benteng itu langsung menghadap ke laut. Benteng ini bertembok tinggi dijadikan sebagai pusat pemerintahan dilengkapi dengan garnisun tentara.

Penguasaan atas kota pelabuhan Malaka memberikan kepuasan batin bagi orang Portugis dan cita-cita untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di negeri Timur berhasil dengan sukses[21]. Setelah Malaka mundur, Aceh menjadi berkembang tetapi Portugis belum menaruh perhatian penuh kepada Aceh pada waktu itu. Sejak menduduki Malaka, agama yang merupakan dasar awal dalam kegiatan penjelajahan samudera dan melakukan ekspansi ternyata dalam praktiknya/secara nyatanya menjadi samar, factor ekonomi dan politik sangat menonjol “Service to Man to takes precedence over the service to God”.

Saat Albuquerque berangkat ke Goa dan selesai membangun benteng serta kembali ke Portugal. Ia masih melakukan perebutan terhadap Ormuz  di teluk Persia dan Aden tetapi gagal. Kegagalannya tidak mengurungkan niatnya untuk mengantar barang-barang dagangan melalui Laut Merah karena sebelumnya Sokotra telah dikuasai oleh orang-orang Portugis. Melalui Sokotra, barang-barang itu dapat diantar menuju Laut Mediiterania yang saat itu Terusan Suez belum digali.

Demi keamanan Malaka dan peningkatan perdagangan rempah-rempah yang sepenuhnya dikuasai di pelabuhan Malaka. Portugis melakukan perjanjian persahabatan dengan Siam dan Birma mengenai lalu lintas kapal dagang Portugis yang memuat rempah-rempah untuk diangkut ke pelabuhan Lisabon dan semua kapal dilengkapi surat panglima perang Portugis di benteng Portugis. Supaya diizinkan berlayar bebas dari gangguan yang secara tidak langsung memberikan anjuran untuk menyerang kapal milik pedagang Arab dan Persia yang menjual rempah-rempah kepada pedagang Venesia.

Demikianlah perjanjian yang dibuat Portugis dengan Birma dan Siam merupakan pukulan telak pedagang Islam di sepanjang pantai Arab sampai India. Pelabuhan Lisabon, Portugal menjadi pelabuhan terkaya saat itu dan menjadi pusat penjualan rempah-rempah di benua Eropa sehingga menyebabkan negara-negara lain berlomba-lomba mencari rempah-rempah[22]. Di Malaka sendiri terjadi perlawanan oleh seorang Jawa bernama Katir.

Beras yang harus datang dari Jawa untuk memenuhi kebutuhan hidup kerajaan diblokade oleh Katir sehingga Portugis mengalami kekurangan pangan. Akan tetapi, kadang-kadang pihak Katir juga mengalami kekurangan bahan pangan sehingga perang sekali-kali diberhentikan. Bilamana bahan pangan yang diimpor dari Jawa jatuh ketangan pihak Katir, pertempuran terus berlanjut.

Pada saatnya Katir mengalami kekalahan dan meminta bantuan dari Japara berupa bantuan yang mengirim 100 kapal dan prajurit ke Malaka untuk melawan Portugis yang dianggap kafir yang datang dari Adipati Unus. Pertempuran sengit pun berkobar tanggal 1 Januari 1513 dan armada Katir-Jawa mengalami kekalahan mutlak hanya 7 kapal yang kembali dengan selamat[23].

Karena orang-orang Jawa membantu musuh-musuh Portugis maka Portugis berniat melakukan pendudukan Jawa. Mereka mulai mencari daerah lain untuk mengembangkan perdagangan mereka. Daerah yang pertama kali berhasil memperluas perdagangannya yakni di daerah Pasai. Akan tetapi usaha mereka untuk mendapatkan perdagangan monopoli lada tidak berhasil.

Kapal-kapal dagang yang membawa berita bahwa Malaka telah diduduki oleh Portugis, ketika datang di Pasai mulai mencurigai maksud-maksud orang-orang Portugis yang datang berdagang di kota tersebut. Karena politik monopoli dagang Portugis itu, pedagang-pedagang lain meninggalkan Pasai dan mencari pelabuhan yang lain di Aceh. Mereka akhirnya berhasil menanamkan pengaruh di Pasai dalam beberapa waktu[24].

Mereka melakukan pelayaran ke negara-negara rempah-rempah di Indonesia Timur yang ditunjuki jalan ke Maluku oleh saudagar India yang sudah biasa berlayar ke Maluku untuk mengambil rempah-rempah dengan harga miring. Kapal dagang itu dikawal oleh kapal Portugis ke negeri rempah-rempah tersebut secara damai. Pelayaran tersebut seperti survey untuk mencari sumber utama rempah-rempah yang biasanya dibawa oleh pedagang.

Setelah pusat rempah-rempah diketahui Portugis, ia dapat berjalan sendiri tanpa penunjuk jalan oleh pedagang lain. Niat utamanya hanyalah untuk berdagang dan membeli rempah-rempah yang selanjutnya kembali ke Malaka dan lama kelamaan akan memonopoli perdagangan di Maluku. Pengangkutan rempah-rempah oleh kapal dagang Portugis langsung dari kepulauan Maluku, merugikan pedagang Tionghoa, yang semenjak jatuhnya kerajaan Majapahit menguasai perdagangan rempah-rempah dan lalu lintas pelayaran di lautan Nusantara.

Bagi orang-orang kepulauan Maluku sendiri, kedatangan Portugis sangat menggembirakan karena harga rempah-rempah sangat tinggi dan naik akibat timbulnya persaingan diantara pembeli. Pedagang-pedagang Tionghoa dan Jawa tidak dapat menjalankan monopoli dagang dan menetapkan harga menurut kehendak sendiri. Kedatangan Portugis disambut dengan baik dan tanpa ada perlawanan sehingga pembelian rempah-rempah langsung kepada penduduk Maluku. Semenjak kedatangan Portugis, perdagangan rempah-rempah dimonopoli pihak Portugis.

Mereka juga ke Pulau Jawa dibawah pimpinan De Abreau singgah ke Gresik dan kemudian menuju ke Pulau Banda. Portugis membeli pala, cengkih, dan fuli. Rempah-rempah dibarter dengan bahan pakaian dari India. Setelah membeli rempah-rempah lagi di Banda , satu diantara kapal tersesat dan tiba di Hitu. Awak kapal diterima dengan baik karena Portugis memihak Hitu dalam perang Hitu VS Seram[25].

Kemudian dari Hitu kapal-kapal ini menuju Ternate dan mereka mendapat sambutan yang baik sehingga membuka lembaran Portugis dalam perdagangan dengan mereka. Untuk beberapa lama perdagangan kedua negara sangat tentram. Ternate meminta Portugis mendirikan benteng untuk melindungi diri dari serangan musuh dan Portugis mengajukan permintaannya untuk memonopoli perdagangan cengkih yang dituangkan dalam perjanjian. Hubungan keduanya memburuk dan akibat perjanjian itu rakyat Ternate mersa tertekan karena tidak ada persaingan bebas lagi, harga rempah pun dijual dengan harga serendah-rendahnya[26].

Timbullah perlawanan, ternyata Portugis yang bermula bersahabat berubah menjadi pemeras dan musuh. Pedagang-pedagang Spanyol ikut-ikut berlayar ke Maluku dan dibawah Del Cano tiba di Maluku dari Filipina ke Tidore, Bacan dan Jailolo dan memborong rempah-rempah dari penduduk. Perebutan dagang rempah-rempah terjadi. Tetapi Spanyol berhasil diusir dari Maluku oleh Portugis[27].

Sejak saat itu Portugis membangun gudang-gudang yang dikelilingi tembok tinggi untuk menyimpan rempah-rempah yang telah dibeli dari penduduk yang selanjutnya akan dibawa ke Malaka[28] . Karena kehadiran mereka merugikan Ternate timbullah pada tahun 1533 terjadi pemberontakan Moluccan Vampire, tetapi oleh Antonio Galvao berhasil meredam.

Karena perdagangan cengkih lebih berkembang di Hitu, Portugis menuju kesana. Akan tetapi, keberadaannya sudah terkenal dengan sistem monopolinya sehingga tidak disegani. Factor ekonomi membuat mereka tidak simpatik, digunakan factor agama, namun di Hitu penduduknya sudah memeluk Islam terpaksa pindah ke Lei Timor. Orang-orang Portugis kehilangan populeritasnya di Maluku dan terdesak ke Timor karena Belanda datang ke wilayah Maluku[29].

Dilain pihak daerah Aceh yang dahulu menjadi daerah taklukan Pedir mulai berhasil melepaskan diri dari Pedir. Bahkan menguasai Pasai pula. Aceh menjadi pusat pedagang yang dahulu singgah di Malaka dan mulai melancarkan permusuhan terhadap Portugis. Kemudian orang-orang Portugis mengalami permusuhan tidak hanya dari Aceh tetapi Johor. Kerajaan Aceh dan Johor melakukan serangan terhadap Portugis di Selat Malaka.

Pihak Aceh dan Johor dibantu oleh kerajaan-kerajaan dipantai utara Jawa. Bantuan diberikan Jawa kepada Aceh dan Johor melawan Portugis di Malaka tidak kecil dan berupa perbekalan perang. Kekalahan Aceh dan Johor karena kapal-kapal Portugis mempunyai peralatan perang yang jauh lebih baik antara lain teknik pembuatan kapal-kapal yang lebih besar daripada kapal-kapal Nusantara. Perahu-perahu yang digunakan kecil-kecil dan untuk menjalankannya sangat terhantung kepada angin meskipun terdapat pendayung.

Tahun 1554-1555 kapal-kapal Portugis dikirim ke Laut Merah untuk menangkap kapal Aceh dan Gujarat, tetapi tidak berhasil. Semenjak kedatangan Portugis di Mataram, mereka membuat Selat Malaka tidak aman. Aceh abad pertengahan 16 betul-betul ancaman Portugis di Malaka. Tetapi di Pasuruan, Pajajaran dan Blambangan Portugis diterima dengan baik.

Oleh sebab itu, orang-orang Portugis merasa cemas jika sewaktu-waktu Aceh menyerang kembali. Tahun 1564 raja muda Portugis di Goa diberi tahu bahwa Aceh mengirim utusan ke Turki-Konstantinopel meminta bantuan militer. Permintaan khusus mengenai pengiriman meriam, pembuat senjata api dan penembak-penembak. Utusan ini membawa emas, lada dan memberi gambaran mengenai kekayaan atau keuntungan yang didapatnya dari kepulauan Indonesia  dapat diperoleh dari perdagangan rempah-rempah.

Pada akhirnya bantuan hanya 2 kapal yang berangkat dengan 500 orang Turki.termasuk ahli senjata api, penembak, dan ahli teknik menuju Aceh dan tiba di Aceh tahun 1566/1567. Selain dari Turki bantuan lain juga dari Kalikut dan Japara untuk mengadakan serangan ke Malaka tahun 1568. Jorge Temudo mengusulkan tahun 1569 untuk memblokade Aceh selama 3 tahun berturut-turut.

Untuk menjalankan ide Uskup Gowa tersebut, Malaka memerlukan 2x lipat kekuatan kapal dengan awak kapal dibawah pimpinan khusus. Kapal-kapal ini ditempatkan di Malaka yang dapat menghadapi tiap kapal Aceh yang akan mengadakan perdagangan dan untuk menangkap kapal Turki yang akan datang ke Aceh dari Laut Merah. Menurutnya sistem ini lebih murah dan efektif untuk memblokade Aceh melalui ekonomi yang berakibat melemahnya Aceh lalu diserbu untuk ditundukkan. Tapi kenyataannya tidak berjalan dengan baik.

Malah Aceh menyerang dan menyerbu Malaka beberapa kali, meskipun mereka mendapatkan perlawanan. Aceh tetap mejadi ancaman bagi orang Portugis yang hendak memiliki monopoli perdagangan. Agar dapat menundukkan Aceh orang-orang Portugis membuat peta Banda Aceh untuk memudahkan penyerbuan terhadap kota ini. Hal itu mereka buat dengan pemikiran bahwa Malaka tidak dapat berkembang dengan baik bilamana Aceh belum menjadi daerah bawahan Portugis[30].

Perhitungan-perhitungan bilamana Aceh jatuh atau tidak merupakan hal yang sia-sia karena Portugis tidak mempunyai kekuatan armada yang cukup untuk melakukan penyerbuan terhadap Aceh. Ada masa dimana kedua negara tidak saling menyerang karena di Aceh sendiri saat Alauddin Riayat Syah dalam negeri mengalami kesukaran karena mereka terdesak oleh Johor. Dan Portugis tidak mampu menahan perdagangan Aceh di Laut Merah.

Saat diperintah oleh Iskandar Muda perang berlanjut kembali dan mengembalikan kekuasaannya di daerah-daerah yang pernah dibawah kekuasaan Aceh seperti Bintan, Pahang, Kedah, Perak, Deli, Johor, dan Nias. Pedagang asing yang pernah diberikan izin adalah Belanda oleh Cornelis de Houtman tahun 1599 dan James Lancaster 1602 yang hanya mencari sekutu untuk melawan Portugis dan Johor sebelumya Belanda pernah singgah di Banten tahun 1596.

Ternyata Inggris pun singgah untuk berdagang pada masa Iskandar Muda, keduanya hanya diberi kehendak izin pada salah satunya dengan dasar siapa yang paling besar memberi keuntungan kepadanya. Belanda dan Inggris dipersukar untuk mengadakan perdagangan dengan Aceh. Para pedagang Eropa tersebut memikirkan untuk melakukan penyelundupan perdagangan akan tetapi tidak berhasil.

Inggris agaknya berhasil mempermudah berdagang dengan Aceh karena Belanda membantu Johor dalam mempertahankan diri terhadap penyerangan-penyerangan Iskandar Muda. Sikap bersahabat dengan Inggris oleh Aceh dengan diberi izin berdagang di Pariaman, Tiku, dan Barus yang merupakan daerah penghasil bahan ekspor dan ke pelabuhan-pelabuhan dari mana bahan-bahan ekspor itu dikirimkan.

Orang-orang Belanda tidak berhasil berdagang di pantai barat Sumatera, memindahkan kantor dagangnya dari Aceh ke Banten tahun 1615. Mereka bermaksud mengadakan perdagangan dari Banten dengan Indrapura. Tahun 1616 mengirim sebuah kapal Enckhuyssen ke Indrapura dimana mereka diterima dengan ramah oleh penguasa setempat. Namun Belanda tidak berhasil membeli lada, karena orang Silebar tidak menunjukkan sikap yang bersahabat. Dari Silebar sebenarnya bisa mengangkut lada tetapi kapal terpaksa mengangkutnya jauhnya dari sini. Percobaan berikutnya dibawah pimpinan Abraham Rasiera juga mengalami nasib yang sama.

Setelah berakhirnya izin orang Inggris di Tiku, Pariaman, dan Barus. Belanda mendapat izin juga untuk berdagang di Tiku dan Pariaman untuk 2 tahun dengan syarat bahwa minimum perdagangan adalah 6.000 tael yaitu 24 real dikirim ke Tiku dan Pariaman. Disamping itu orang-orang Belanda dipersukar dan harga lada dinaikkan dai harga semula. Iskandar Muda berhasil menekan perdagangan yang dijalankan oleh orang Eropa[31].

Tahun 1629 menyerang Malaka ternyata tidak berhasil, karena kekalahan tersebut ia membuat perjanjian dengan Belanda dan memberi izin berdagang 4 tahun diseluruh kerajaannya terbebas dari bea cukai dan diberi izin untuk ikut dalam perdagangan timah di Perak[32]. Pada akhirnya pemerintahan Iskandar Muda mengalami kelonggaran  dari Pemerintah pusat sehingga panglima-panglima mengambil keuntungan bagi diri sendiri dalam mengadakan perdagangan dengan pedagang asing.

Kesukaran yang semula dialami oleh Belanda dalam perdagangannya dengan Aceh dijadikan alasan untuk menuntut sultan dalam memberi penjelasan mengenai sikap panglimanya yang tidak sejalan dengan izin yang diberi sultan. Akan tetapi mereka tidak mendapat respons dari sultan. Ia telah memalingkan persahabatannya kepada Portugis karena orang Belanda memberi bantuan kepada Johor.

Seabad kemudian, Portugis hengkang dari Malaka karena serangan pasukan VOC dari Belanda. Keadaan inilah yang menjadi pemicu bagi Belanda untuk menetap di Malaka lalu menyerang Malaka tahun 1641, serangan ini merupakan sangat merugikan supremasi hegemoni Politik-Ekonomi Kerajaan Aceh.  Belanda mulai mengadakan perjanjian dengan Sultan Kedah tanggal 18 Juni 1642, Ceylon, dan Bangery sehingga jika mau melewati Malaka harus mendapat izin dari Belanda[33]. Orang Belanda pun tak lama berkuasa atas Malaka karena kemudian Inggris mengambil alih kekuasaan atas Malaka.

Demak sebagai kekuatan Islam di Jawa yang superpower, Yat Sun alias Adipati Unus putra sulung Jin Bun (al-Fatah) telah bersiap-siap menyerang Malaka yang sudah lama diincar oleh Demak. Namun 1511, Portugis sudah menguasai terlebih dahulu. Di kota Malaka banyak menetap pedagang Jawa. Mereka perlu dihubungi dan dijadikan mata-mata. Taktik itu bisa dilakukan dalam persiapan perang.

Kin San (Raden Kusen) penguasa tertinggi di Semarang pernah bertindak sebagai mata-mata di pusat pemerintahan Majapahit selama 3 tahun. Kerjasama antara Kin San dan Yat Sun sangat erat  dan mengenai taktik perang banyak tau dari Kin San. Orang-orang Jawa yang menetap di Malaka diketuai oleh Utimuti Raja.

Dalam serbuan Portugis ke Malaka, mereka membantu Portugis menguasai Malaka. Sejak Malaka dikuasai Portugis dan tercipta monopoli yang merugikan Demak dan Pedagang Islam. Utimuti Raja mengadakan hubungan rahasia dengan para pedagang Jawa.  Yang memang terhimpun di bawah lindungannya. Utimuti Raja juga mengadakan hubungan dengan bangsawan Malaka yang mempunyai hak atas takhta kesultanan Malaka (Mulyana. 2005: 217).

Hubungan tersebut dapat diketahui oleh polisi rahasia Portugis. Utimuti Raja dihukum mati. Yat Sun memimpin armada Demak ke Malaka tahun 1512. Bantuan masyarakat Jawa yang ada di Malaka sangat diharapkan membantu Demak, tidak kunjung datang yang ternyata Patih Kadirmenyingkir ke Cirebon.

Armadanya sudah terlanjur datang di Malaka, orang-orang Portugis telah siap dibentengnya. Saat Kapal Demak mendekati Pantai Malaka, mereka dihujani peluru meriam dan Yat Sun menemui kegagalan mereka mundur. Portugis dibantu oleh menantu Sultan Mahmud Syah yakni Sultan Abdullah Raja dari Kampar. Sultan Abdullah sengaja mengadakan hubungan dengan Portugis dengan maksud agar ia diangkat sebagai sultan di Malaka menggantikan Mahmud Syah di bawah naungan Portugis.

Dalam kenyataannya, ia tidak beruntung. Orang-orang Portugis hanya memanfaatkan Abdullah Raja dan mengambil sikap bermusuhan terhadap orang muslim. Meskipun membantu Portugis, Abdullah tetap dicurigai dan untuk sementara mereka tidak membutuhkan bantuan bangsa Melayu. Armada Demak berlayar kembali dengan harapan serangan yang akan dilancarkan kemudian dengan persiapan dan perlengkapan yang lebih baik dapat berhasil rebut Malaka.

Dengan bantuan Gan Si Cang, Yat Sun memperlipat gandakan produksi kapal di galangan Semarang untuk memperbesar armadanya, sehingga cukup untuk mengepung kota Malaka dari laut. Dengan bantuan Kin San, ia melengkapi armadanya dengan meriam-meriam besar yang sanggup menembaki benteng A-Famosa dari jarak jauh. Yat Sun telah mengetahui dengan pasti situasi musuh yang berlindung di benteng A-Famosa diatas bukit.

Diperintahkan, membuat kapal kayu model Ta Chih, tiruan kapal Sunan Kudus yang singgah di galangan kapal di Semarang tahun 1513 untuk diperbaiki. Kapal jung besar model Tiongkok dapat memuat 400 orang prajurit atau muatan 100 ton, perlu diubahbentuknya untuk memperoleh kecepatan yang lebih tinggi. Dengan armada yang besar dan perlengkapan senjata yang lebih baik dari sebelumnya, ia berharap dapat merobohkan benteng A-Famosa.

Serangan Demak ke Malaka diulangi lagi pada tahun 1521 sehingga Yat Sun disebut sebagai Pangeran Sabrang Lor mengalami kegagalan untuk kedua kalinya[34].  Pedagang Tionghoa  di Demak merasa sangat dirugikan sejak kedatangannya di Malaka, orang-orang portugis dipandang sebagai musuh orang Demak. 2 kali melakukan serangan ke Malaka tetep saja gagal, serangan yang ketiga dilakukan dengan armada yang jauh lebih spektakuler dan besar dibawah pimpinan Muk Ming (Sunan Prawoto), putra Sultan Trenggono menyiapkan kapal jung besar sebanyak 1.000 buah di galangan kapal Semarang. Siang malam tukang-tukang kapal Tionghoa di galangan kapal Semarang bekerja membanting tulang.

Setelah selesai pengerjaannya, Armada Demak pergi ke Maluku tahun 1546  untuk mengusir Portugis di Maluku. Perlengkapan senjata orang Portugis berupa meriam tembak jarak jauh tetap masih lebih unggul dari buatan Kin San. Serangan ketiga di Maluku mengalami kegagalan seperti di Malaka, hanya membuang tenaga dan waktu saja. Portugis teteap menguasai perdagangan rempah-rempah di kepulauan Maluku sebelum akhirnya ia ke Timor karena popularitasnya menurun

Dari Majapahit sendiri Girindrawardhana menunggu kesempatan untuk mengadakan serangan balasan terhadap Demak, namun perekonomian rakyat sangat lemah dan tentara telah terpecah-pecah. Untuk memperbaiki ekonomi kerajaan satu-satu jalannya yakni melakukan hubungan dengan Portugis. Tetapi kota-kota di pantai utara Jawa dikuasai oleh orang-orang Tionghoa yang setia sama Demak. Dengan sendirinya, hubungan antara pedagang Portugis dengan Majapahit dilaporkan kepada Jin Bun. Jin Bun menyerang Kota Majapahit dari Demak.

Karena Girindrawardhana masih merupakan adik tiri Jin Bun, ia tetap diberikan kekuasaan sebagai bupati Majapahit. Pengawasan Demak terhadap Majapahit semakin diperkeras dan diperketat. Ia masih melakukan hubungandagang secara sembunyi-sembunyi  dengan Portugis di Malaka. Ia mengarapkan bantuan orang Portugis dari Malaka.untuk embebaskan diri dari kekuasaan Jin Bun.

Pada tahun 1521 mendadak Yat Sun meninggal, disinilah terjadi keributan dan perebutan mengenai calon penggantinya, karena ia tidak berputra sehingga 4 anak Jin Bun mulai berebut takhta semakin berkobar menurut Serat Kanda. Pada akhirnya Trenggono yang akan memenangkannya. Perebutan tersebut memberikan kesempatan Girindrawardhana untuk membebaskan diri dari kekuasaan Jin Bun-Demak

Sayangnya, ia tidak lagi memiliki prajurit yang kuat dan banyak seperti dahulu semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit. Satu-satunya jalan bantuan Portugis dari Malaka sangat dibutuhkan Bantuan tidak kunjung datang dari Portugis, ternyata memiliki 2 sebab: 1. Mereka baru saja menangkis serangan dari Demak, 2. Sikap Mahmud Syah yang masih mencurigakan. Tentara Mahmud Syah setiap saat bisa menyerang Portugis dan masih mengadakan persiapan yang rahasia dan bakal mengejutkan.

Dyah Ranawijaya Girindrawardhana belum putus harapan melanjutkan perjuangan meminta bantuan Portugis yang telah dilakukan Girindrawardhana. Pada tahun 1521, ia mengirim utusan ke Cina unruk memohon pengakuan dan masih menjalin hubungan secara gelap dengan Portugis. Sementara itu, kedudukan Trenggono semakin bertambah kuat kedudukannya. Untuk menghidarkan pemberontakan yang timbul dari bupati Majapahit, maka ia mengirim tentara Demak di bawah pimpinan putranya Toh A Bo (Sunan Gunung Jati) menduduki Kota Majapahit.

Setelah Girindrawardhana wafat dan tidak ada bupati baru, putra-putrinya melarikan diri ke Pasuruan dan Panarukan. Berikutnya adalah Kerja Sama yang dilakukan Kerajaan Padjajaran dengan Portugis dalam menghadapi masuknya Islam diwilayah kekuasaannya dan Kerajaan Demak-Cirebon dan menyerang Sunda Kalapa dan hubungan Sunda Kelapa dengan Banten.

Sunda Kalapa disekitar sisi timur Sungai Ciliwung sekitar abad ke 12 dan tercatat oleh Jan Huygen van Linschoten (Pelaut Belanda yang mengetahui Peta rute perjalanan Portugis ke Timur) dalam Itinerario yang dibuat pada tahun 1556 dengan nama Cunda Calapa, dimana disebutkan bahwa  ada kota bernama Sunda Kelapa merupakan pelabuhan kerajaan Padjajaran yang sangat ramai disinggahi oleh pedagang. Pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang paling menguntungkan saat itu.

Selain Sunda Kelapa sebagai Pelabuhan Padjajaran terdapat pelabuhan lainnya seperti: pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara dan Cimanuk. Namun, saat Malaka dikuasai Portugis tahun 1511 Sunda Kelapa mengalami perkembangan perdagangan yang cukup pesat akibat jalur Malaka dikuasai Portugis sehingga pedagang asing khususnya pedagang Muslim enggan lagi berdagang di Malaka dan lebih memilih berdagang di Sunda Kelapa.

Walaupun ingin mendapatkan keuntungan dari kedatangan pedagang muslim, pemimpin daerah dibawah Padjajaran merasa khawatir dengan penyebaran Islam yang dilakukan pedagang muslim di daerah kekuasaannya dan terutama Kerajaan Demak yang sedang gencar menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa bahkan hampir memasuki Padjajaran. Akan tetapi Raja Sri Baduga Maharaja pada masa itu, tidak merasa resah mengetahui agama Islam merembes masuk diwilayah kekuasaannya karena tampak berlangsung secara damai tanpa kekerasan. Bahkan menurut cerita ada beberapa keluarga istana yang memeluk agama Islam seperti Kean Santan yang berguru pada Syekh Quro di Karawang.

Daerah Cirebon dan sekitarnya juga mulai terIslamkan melalui Syarief Hidayatullah, sebelum Sunan Gunung Jati mengislamkan Cirebon dalam naskah Purwaka Caruban Nagari yang menjadi sejarah asal mula Cirebon menceritakan sekitar abad ke XV ada perguruan islam berarti Islam sudah ada sekitar abad ke-XV tetapi masih banyak yang menganut Hindu-Budha. Menjelang akhir abad ke XV didaerah kerajaan sudah mulai banyak orang Islam yang tinggal di kota pelabuhan/pesisir terutama pelabuhan Cimanuk yang sebelah timurnya merupakan Cirebon sudah banyak orang Islamnya.

Hal yang membuat miris Sri Baduga, Kerajaan Demak berhasil menundukkan Kerajaan Majapahit yang dikenal tangguh, selain itu hubungan Demak dan Cirebon semakin akrab. Persekutuan ini mencemaskan Sri Baduga sehingga ia mengutus Putra Mahkota Surawisesa agar mengadakan hubungan diplomatic dengan orang Portugis di Malaka dibawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque. Sebaliknya rencana diplomatik Padjajaran mencemaskan pihak Kerajaan Demak. Selama 39 tahun memerintah Padjajaran, Sri Baduga digantikan oleh Surawisesa dengan gelar Mundinglaya menghubungi Alfonso di Malaka pada tahun 1512 dan untuk kedua kalinya datang tahun 1521 dengan maksud yang sama tetapi waktu itu sudah diganti oleh Jorge d’Albuquerque.

Kunjungan penjajakan dengan pihak Portugis sedangkan kunjungan yang kedua adalah kedatangan utusan Portugis di bawah pimpinan Hendrik de Leme (Ipar Alfonso) ke Sunda yang beribukota Dayoh dan tercapai persetujuan antara Portugis dengan Padjajaran mengenai Perdagangan dan Keamanan pada tanggal 21 Agustus 1522. Selain Persetujuan mengenai perdagangan dan keamanan terdapat perjanjian akan memberi 1.000 karung lada tiap tahunnya kepada Portugis untuk ditukarkan dengan muatan sebanyak 2 costumodos (351 Kw)

Dengan syarat membangun benteng di bandar Banten yang bertujuan melindungi Padjajaran khususnya Sunda Kelapa sebagai Pelabuhan yang strategis dari ancaman penyebaran Islam dan kekuatan Demak serta untuk tiap-tiap kapal Portugis yang datang akan diberi muatan lada yang harus ditukar dengan barang-barang keperluan yang diminta Padjajaran.

Dari pihak Sunda yang menandatangani persetujuan tersebut adalah Sang Sanghyang dengan 3 orang pembantu: Mandari Tadem, Tamungo Sanque de Paté dan Xabandar (Syahbandar) sedangkan dari pihak Portugis wakil-wakilnya adalah Fernando de Almeida, Joao Countinho, Francisco Diaz, Manuel Mendes, Gil Barboza dan Sebastian do Rego. Walaupun sebelumnya sudah ditetapkan di Banten, Portugis lebih memilih Sunda Kelapa sebagai tempat mendirikan loji/benteng dengan mendirikan Padrăo yang letaknya di sebelah timur muara Ciliwung sebagai tanda akan mendirikan loji[35].

Perjanjian Padjajaran dan Portugis ini menjadi ancaman dan kecemasan Kerajaan Islam Demak dibawah Sultan Trenggono. Selat Malaka dan Kerajaan Passai sebagai pintu utara Nusantara sudah dikuasai Portugis bila pintu selatan: Selat Sunda dikuasai Portugis maka jalur perdagangan yang menjadi urat nadi Kerajaan Demak terancam hancur dan sepi Untuk mencegahnya Sultan Trenggono dan Cirebon mengirim armada di bawah pimpinan Fatahillah (Fadhillah Khan-Portugis menyebutnya Tagaril/Falatehan) menguasai Banten 1522-1523 dan Sunda Kelapa dibawah kerajaan Demak-Cirebon dengan mengalahkan penguasa Sunda Kelapa Ratu Sanghyang (Samiam) pada akhir Februari 1527.

Ratu Surawisesa terpaksa berperang sendiri melawan pasukan Islam. Dalam Carita Parahyangan memberitakan selama pemerintahan yang hanya 14 tahun itu (1521-1535 M), ia berperang sebanyak 15 kali dan tidak pernah kalah tetapi pada akhirnya dikalahkan. Tahun 1527, ternyata loji tersebut tidak pernah didirikan. Bangsa Portugis tiba di Sunda Kelapa dibawah pimpinan Francisco de Sa. Kedatangan Portugis terlambat dan tidak mengetahui bahwa Sunda Kelapa di kuasai Fatahillah karena Francisco de Sa ditugaskan membangun benteng di Goa, India yang baru berangkat menuju India tahun 1524 dan tiba di Kalapa tahun 1527. Pertengahan Maret 1527 Pasukan Portugis turun dengan sekoci untuk merapat ke pelabuhan, sesampai disana mereka disergap dan digempur oleh pasukan Fatahillah, namun Francisco berhasil kabur.

Setelah mengalahkan Portugis dan menguasai seluruh Sunda Kelapa dan daerah sekitarnya menyebabkan terputusnya hubungan pusat kerajaan yang terletak di pedalaman dengan daerah luar. Jalan niaga Padjajaran satu per satu jatuh ketangan Islam sehingga raja hanya dapat bertahan di pedalaman, Alhasil runtuhlah Padjajaran yang sebagian penduduk setia kepada Padjajaran kabur kearah Barat Banten dikenal sebagai Suku Baduy. Nama Sunda Kelapa lalu diubah menjadi Jayakarta “kemenangan yang diraih oleh sebuah perbuatan atau usaha” tanggal 22 Juni 1527[36].

Orang Sunda menyebut peristiwa ini tragedi, karena penyerangan tersebut membungihanguskan kota pelabuhan tersebut dan membunuh banyak rakyat Sunda disana termasuk syahbandar pelabuhan dan ada sebagian dari mereka tetap menetap di Jayakarta. Selanjutnya Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon, menyerahkan pemerintahan di Jayakarta (karena Jayakarta dibawah kekuasaan Demak-Cirebon) kepada putranya yaitu Maulana Hasanuddin dari Banten yang menjadi sultan di Kesultanan Banten sehingga Jayakarta sekarang berada di bawah kekuasaan Banten. Jayakarta tidak seramai dan sejaya masa Sunda Kelapa karena jalur perdagangan sekarang berada di Banten menyebabkan Banten ramai.

Di Banten Tionghoa Muslim sudah dalam jumlah besar menempati wilayah Banten sekitar abad 15 dan 16 telah menjalin hubungan erat dengan kesultanan Banten, bahkan bisa dibilang panjang tangan sang Sultan dalam bidang perdagangan. Orang Cina memiliki keterampilan berdagang terkadang melakukan kecurangan dan kebohongan demi mendapatkan keuntungan. Mereka tidak enggan menerima segala jenis pekerjaan asalkan bisa membuat mereka dapat bertahan hidup sehingga mereka menempati posisi yang strategis baik itu sebagai tokoh agama, syahbandar, maupun saudagar sukses menjadikan mereka sebagai mitra dagang dengan sang Sultan[37].

Datang Belanda di Banten dibawah pimpinan Cornelis de Houtman tercengang melihat komunitas Tionghoa Muslim yang memiliki hubungan yang baik dengan penduduk  serta penguasa setempat. Menurut catatan Belanda tahun 1600 sudah terdapat 3.000 orang Tionghoa Muslim di Banten setelah singgah di Banten pada 23 Juni tahun 1596. Pada tahun 1611, untuk kedua kalinya Belanda ke Banten melalui J.P.Coen yang diutus oleh Pieter Both membeli Lada Banten yang terkenal yang diluar dugaannya mengantarkannya untuk berurusan dengan Pedagang Lada keturunan Tionghoa kepercayaan sultan bernama So Bing Kong (Bencon) yang memiliki perkebunan lada begitu luas, dia mendapat kepercayaan oleh sultan untuk mengatur mekanisme perdagangan lada di Banten.

Jayakarta pada awal abad ke-17 lalu diserahkan pemerintahan oleh Pangeran Jayakarta Wijayakrama yang menikah dengan keponakannya Ratu Pembayun salah seorang cucu Maulana Hasanuddin dari Pangeran Pajajaran. Sebelum Pangeran Jayakarta memerintah Jayakarta, salah seorang kerabat yang sebelumnya pernah memerintah Jayakarta diperintah oleh Pangeran Tubagus Angke (1552) merupakan menantu Sultan Maulana Hasanuddin yang kemudian diserahkan atau diganti oleh Pangeran Jayakarta. Pada Masa Jayakarta orang Cina sudah menempati wilayah Jayakarta bekerja sebagai penyuling arak yang terkenal saat pelaut datang ke Jayakarta. Kemudian Belanda singgah di Jayakarta untuk berdagang dan melakukan bongkar muat barang, akan tetapi Pangeran Jayakarta dengan kebijakan-kebijakan ekonomi yang berani dan tegas terutama dalam bidang perdagangan, menjalin hubungan dagang bangsa asing terutama dengan Belanda yang diizinkan membangun gudang di tepi timur Ciliwung.

Kemudian dengan hasrat ingin menguasai Jayakarta sebagai Pusat perdagangan maka Belanda menyerang dan menghancurkan kota Jayakarta dan Pangeran Jayakarta jatulah Jayakarta ditangan Belanda (lihat gambar 1.5 pada gambar di bawah ini).

Kemudian Belanda mengubahnya dengan Batavia sebagai simbol kemenangan Belanda. Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal 1 di Batavia mengambil kesempatan untuk menjadikan kota Batavia sebagai markas besar VOC dengan membangun kembali kota dengan berarsitektur Eropa dan membuat rencana ambisius bagi VOC memiliki pos perdagangan di seluruh Asia untuk mendominasi perdagangan di Asia dengan melakukan penekanan pengendalian lokal sebagai tempat pengumpulan komoditas Asia dan pusat Kolonisasi. Karena ia beranggapan bahwa dominasi perdagangan Belanda di Asia membutuhkan banyak orang Belanda yang berada di wilayah lokal untuk perdagangan intra regional, aktivitas militer, akuntansi, pekerja terampil dan pengawasan perkebunan[38].

DAFTAR RUJUKAN

 

Afif, Afthonul.2012. Identitas Tionghoa Muslim Indonesia. Depok: Kepik.

Blackburn, Susan.2012. Jakarta Sejarah 400 Tahun. Jakarta: Masup Jakarta

Kartodirdjo, Sartono. 1988. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900, Dari Emporium sampai Imperium. Jakarta: PT. Gramedia.

Muljana, Slamet. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara- Negara Islam di Nusantara, Pengantar: Asvi Warman Adam. Yogyakarta: LKiS.

Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (Ed.). 2010. Sejarah Nasional Indonesia III: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

_____. 2010. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka.

Ruchiat, Rachmat.2011. Asal-usul Nama Tempat di Jakarta. Jakarta: Masup Jakarta

Rusdi. 2013. Era Kerajaan-Kerajaan Islam, (Online), (http://history1978.wordpress.com/all-about-indonesian-history/era-kerajaan-kerajaan-islam), diakses tanggal 19 Februari 2013.

Wikipedia. 2013. Kerajaan Malaka, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Melaka), diakses tanggal 21 Februari 2013.


[1] Kartodirjo.1988: 5

[2] Poesponegoro. 2010: 331-334

[3] Kartodirdjo. 1988: 12

[4] Kartodirjo.1988: 13.

[5] Kartodirjo. 1988: 11.

[6] Kartodirdjo. 1988: 5-8

[7] Cortesao.1944: 264-266, Kartodirdjo 1988: 13-14

[8] Meilink. 1962: 51

[9] Cortesao. 1944: 273

[10] Cortesao.1944: 275

[11] Cortesao. 1944: 273

[12] Poesponegoro.2010: 344, dikutip dari buku Sejarah Nasional Indonesia III

[13] Mulyana.2005: 210

[14] Mulyana.2005: 212

[15] Mulyana.2005: 213.

[16] Mulyana.2005: 214.

[17] Dikutip dari Buku Kerajaan-Kerajaan Islam di Nusantara, Hariwijaya.2005: 93

[18] Mulyana.2005: 211-212.

[19] Mulyana.2005: 214.

[20] Hariwijaya.2007: 93.

[21] Mulyana.2005: 215.

[22] Mulyana.2005: 216.

[23] Poesponegoro.2010: 354.

[24] Poesponegoro.2010: 355.

[25] Poesponegoro.2010: 345

[26] Poesponegoro.2010: 346

[27] Poesponegoro.2010: 346

[28] Mulyana.2005: 220.

[29] Poesponegoro.2010: 347.

[30] Poesponegoro.2010: 359

[31] Poesponegoro.2010: 362.

[32] Karthirithambi.1969: 464

[33] Poesponegoro.2010: 357.

[34] Mulyana.2005: 218.

[35] Poesponegoro.2010: 349-400, dikutip dalam buku Sejarah Nasional Indonesia II

[36]Ruchiat.2011: 7-9.

[37] Afif.2012: 73.

[38] Blackburn.2012: 11.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s